PW S. Martinus dr Tours, Uskup

 

Bacaan Pertama
Keb 7:22-8:1

“Kebijaksanaan merupakan pantulan cahaya kekal, 

dan cerminan tak bernoda kegiatan Allah.”

Pembacaan dari Kitab Kebijaksanaan:

Di dalam kebijaksanaan ada roh yang arif dan kudus, 

tunggal, majemuk dan halus, 

mudah bergerak, jernih dan tidak bernoda, 

terang, tidak dapat dirusak, suka akan yang baik dan tajam,

tidak tertahan, murah hati dan sayang akan manusia, 

tetap, meyakinkan dan mantap, 

mahakuasa dan memelihara semuanya 

serta menyelami sekalian roh yang arif, murni dan halus sekalipun.

Sebab kebijaksanaan lebih lincah dari segala gerakan, 

karena dengan kemurniannya 

ia menembus dan melintasi segala-galanya.

 

Kebijaksanaan adalah nafas kekuatan Allah, 

dan pancaran murni kemuliaan Yang Mahakuasa. 

Tidak ada sesuatupun yang bernoda masuk ke dalamnya.

Karena kebijaksanaan merupakan pantulan cahaya kekal, 

dan cermin tak bernoda kegiatan Allah, serta gambar kebaikan-Nya.

Meskipun tunggal, namun kebijaksanaan mampu akan segala-galanya, 

dan walaupun tinggal di dalam dirinya, 

namun membaharui semuanya. 

Dari angkatan yang satu ke angkatan yang lain ia beralih 

masuk ke dalam jiwa-jiwa yang suci, 

yang olehnya dijadikan sahabat Allah dan nabi.

 

Tiada sesuatu pun yang dikasihi Allah 

kecuali orang yang berdiam bersama dengan kebijaksanaan.

Sebab kebijaksanaan lebih indah daripada matahari, 

dan mengalahkan setiap tempat bintang-bintang.

Dibandingkan dengan siang terang dialah yang unggul, 

sebab siang digantikan malam, 

sedangkan kejahatan tak sampai menggagahi kebijaksanaan.

 

Dengan kuat ia meluas dari ujung yang satu ke ujung yang lain, 

dan halus memerintah segala sesuatu.

 

Demikianlah sabda Tuhan.

 

Mazmur Tanggapan
Mzm 119:89.90.130.135.175,R:89a

Refren: Ya Tuhan, untuk selama-lamanya firman-Mu tetap teguh.

*Untuk selama-lamanya, ya Tuhan, 

firman-Mu tetap teguh di surga.

 

*Kesetiaan-Mu dari keturunan ke keturunan; 

bumi Kautegakkan, sehingga tetap ada.

 

*Menurut hukum-hukum-Mu sekarang semuanya itu ada, 

sebab segala sesuatu melayani Engkau.

 

*Bila tersingkap, firman-Mu memberi terang, 

memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.

 

*Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu, 

dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

 

*Biarlah jiwaku hidup supaya memuji-muji Engkau, 

dan biarlah hukum-hukum-Mu menolong aku.

 

Bait Pengantar Injil
Yoh 15:5

 

Akulah pokok anggur, kalian ranting-rantingnya, sabda Tuhan. 

Tinggallah beserta-Ku, maka Aku tinggal besertamu, 

dan kalian akan berbuah banyak.

 

Bacaan Injil
Luk 17:20-25

 

“Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengahmu.”

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

 

Sekali peristiwa orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus, 

kapan Kerajaan Allah datang. 

Yesus menjawab, 

“Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah. 

Tidak dapat dikatakan, 

“Lihat, ia ada di sini’ atau ‘ia ada di sana.’ 

Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengahmu.”

 

Yesus berkata kepada para murid, 

“Akan datang waktunya 

kalian ingin melihat salah satu hari Anak Manusia itu. 

Tetapi kalian tidak akan melihatnya.

Orang akan berkata kepadamu, 

‘Lihat dia ada di sana! 

Lihat dia ada di sini! ‘

Tetapi jangan kalian pergi ke situ, jangan kalian ikut.

Sebab seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu 

ke ujung langit yang lain, 

demikian pulalah halnya Anak Manusia, 

pada hari kedatangan-Nya kelak.

 

Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu 

dan ditolak oleh angkatan ini.”

Demikianlah sabda Tuhan.

 

 

Renungan Injil

Dari Bacaan Injil hari ini, orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus, “Kapan Kerajaan Allah akan datang?”

Sesungguhnya yang dinanti-nantikan sejak dahulu adalah kedatangan Mesias, dan Mesias telah datang tetapi banyak orang tidak mau menerima Dia sebagai Mesias.

Mereka berharap Mesias yang datang itu berupa seorang raja yang memimpin suatu kerajaan. 

Yang namanya kerajaan tentu ada istananya, ada bala tentaranya dan sebagainya. 

Maka Yesus pun menegaskan kembali, “Sesungguhnya Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengahmu.”

 

Ternyata masih saja orang-orang keliru tentang Mesias dan kerajaan Allah.

Mereka mau agar Allah dan kerajaan-Nya menjadi bagian dari dunia ini, menjadi sama seperti kerajaan-kerajaan dunia lainnya.

Jangan-jangan di antara kita pun ada juga yang berharap melihat tanda-tanda lahiriah dari Kerajaan Surga, kasat mata dan nampak nyata.

 

Begitu pula yang terjadi, ketika Yesus ditangkap dan dihadapkan kepada Pilatus, Yesus ditanya, “Engkau inikah raja orang Yahudi?”

Yesus menjawab, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.”

 

Kerajaan Allah itu jauh-jauh-dekat.

Kita hanya punya satu kali kesempatan untuk datang dan melihat Kerajaan Allah, dan pada saatnya itu kita akan tinggal di sana selama-lamanya.

Jaraknya sangat jauh alang-kepalang, teknologi belum bisa menyediakan sarana komunikasinya.

Kita tidak bisa kirim pesan via SMS atau WhatsApp ke sana, seolah-olah kita putus hubungan dengan orang-orang yang kita kasihi yang telah tinggal di sana.

Tetapi Yesus mengatakan, ada semacam “miniatur” Kerajaan Allah bisa kita simpan di dalam hati kita, yang kita sebut iman.

Melaluinya, telah disediakan sarana komunikasi yang sangat canggih, yang bisa menjangkau sampai kepada Kerajaan Surga sekali pun kita masih tinggal di dunia ini.

Sarana komunikasinya sangat berbeda dengan sarana-sarana yang ada sekarang ini, karena dibangun secara rohaniah.

Dan saya percaya, sebagai warga dari Kerajaan Allah, setiap pesan yang kita kirimkan melalui sarana canggih ini pasti sampai kepada yang dituju, entah langsung kepada Allah Bapa, atau melalui perantaraan Yesus Kristus, Bunda Maria atau para orang kudus.

Sebaliknya pesan dari kerajaan itu akan sampai kepada kita jika kita memelihara “miniatur” tadi di dalam hati kita, memelihara iman kita.

 

Peringatan Orang Kudus

Santo Martinus dari Tours, Uskup dan Pengaku Iman

Martinus lahir di Sabaria, Pannonia (sekarang: Szombathely, Hungaria Barat) pada tahun 335 dan dibesarkan di Italia. Ayahnya seorang perwira tinggi Romawi yang masih kafir. Sulpicius Severus, pengikut dan penulis riwayat hidupnya, mengatakan bahwa Martinus pada umur 10 tahun diam-diam mengikuti pelajaran agama Kristen tanpa sepengetahuan orangtuanya. Ayahnya sangat mengharapkan dia menjadi perwira Romawi seperti dirinya. Oleh karena itu pada usia 15 tahun, ia memasukkan Martinus dalam dinas militer.

Dalam suatu perjalanan dinas ke kota Amiens, pada musim dingin tahun itu, Martinus berpapasan dengan seorang pengemis malang yang sedang kedinginan di pintu gerbang kota. Pengemis itu mengulurkan tangannya meminta sesuatu dari padanya. Kasihan ia tidak membawa uang sesen pun pada waktu itu. Apa yang dilakukannya? Tergerak oleh belaskasihannya yang besar pada pengemis malang itu, ia segera menghunus pedangnya dan membelah mantelnya yang indah itu: sebagian

untuk dia dan sebagian diberikan kepada pengemis itu. Ketika memasuki kota Amiens, banyak orang menertawakan dia karena mantelnya yang aneh itu.

Pada malam itu juga, Yesus bersama sejumlah malaekat Allah menampakkan diri kepadanya. Dalam penglihatan itu Martinus melihat Yesus mengenakan mantel setengah potong yang sama dengan bagian mantel yang diberikan kepada pengemis malang tadi. Kepada para malaekat itu Yesus berkata: “Martin, seorang katekumen memberikan Aku mantel ini.” Tak lama kemudian ia dipermandikan dan segera mengajukan permohonan pengunduran diri dari dinas ketentaraan. Kepada atasannya ia berkata: “Saya ini tentara Kristus, karena itu saya tidak boleh berperang.” Atasannya dan perwira-perwira lainnya mencerca dan menuduhnya pengecut. Tetapi dengan tegas Martinus menjawab: “Saya berani pergi berperang dan bersedia berdiri di front terdepan tanpa membawa sepucuk senjata pun.” Akhirnya permohonannya dikabulkan dan ia secara resmi berhenti dari dinas militer Romawi.

Sesudah itu ia menjadi murid Santo Hilarius, Uskup Poiters. Setelah beberapa lama dididik oleh Santo Hironimus, ia ditahbiskan menjadi imam dan diutus ke Illirikum, Yugoslavia untuk mewartakan Injil di sana. Tetapi karena ia mendapat banyak tantangan dari para penganut aliran sesat Arianisme, maka ia mengundurkan diri dan hidup bertapa di sebuah pulau dekat pantai selatan Prancis. Kemudian ia bergabung lagi dengan Santo Hilarius dan mendirikan sebuah biara di Liguge, Prancis. Inilah biara pertama di Prancis. Di dalam biara ini ia menjadi pembimbing bagi rahib-rahib lain yang ingin mengikuti jejaknya.

Kemudian pada usia 55 tahun, ia ditahbiskan menjadi Uskup Tours. Ia tidak mempunyai istana yang istimewa, hanya sebuah bilik sederhana di samping sakristi gereja. Bersama rahib-rahibnya, Martinus giat mewartakan Injil. Kotbah-kotbahnya diteguhkan Tuhan dengan banyak mujizat. Dengan berjalan kaki, naik keledai atau dengan perahu layar ia mengunjungi semua desa di keuskupannya. Ia tak gentar menghancurkan tempat-tempat pemujaan berhala, dan tanpa takut-takut menentang praktek hukuman mati yang dijatuhkan kaisar terhadap tukang-tukang sihir dan penyebar ajaran sesat. Itulah sebabnya ia tidak disukai oleh orang-orang Kristen yang fanatik. Tetapi Martinus tetap pada pendiriannya: menjunjung tinggi keadilan dan menentang sistim paksaan. Martinus adalah salah seorang dari para kudus yang bukan martir. Ia meninggal dunia pada tanggal 8 Nopember 397.

 

Santo Mennas, Martir

Orang kudus ini berasal dari Mesir dan dikenal sebagai penjaga unta. Kemudian ia menjadi prajurit dalam dinas militer Romawi pada masa pemerintahan Kaisar Diokletianus. Sewaktu bertugas di Phrygia, Asia Kecil, ia ditangkap karena imannya dan dibunuh pada tahun 295. Jenazahnya dimakamkan di Karm Aba Mina yang sampai kini menjadi tempat ziarah ramai. Dahulu kala di Roma terdapat sebuah gereja yang didirikan di Via Ostia untuk menghormati dia.

 

Santo Teodoros Konstantinopel

Teodoros lahir di Kerak (sekarang: Yordan) dan meninggal di Bithynia, Asia Kecil pada tahun 841. Mulanya ia menjadi biarawan di Yerusalem dan setelah ditahbiskan menjadi imam, ia dikirim ke Konstantinopel bersama saudaranya Santo Theophanes untuk melancarkan perlawanan terhadap kaum bidaah Ikonoklasme yang didukung oleh Kaisar Leo V (813-820). Tetapi atas perintah raja, mereka dibuang ke sebuah pulau di Laut Hitam, terutama karena mereka berani mencela perceraian kaisar dengan isterinya, dan menentang usaha raja untuk mengeluarkan semua gambar suci dari dalam gereja. Ikonoklasme adalah aliran kepercayaan yang menentang dipasangnya gambar-gambar atau ikon-ikon suci di dalam gereja.

Kemudian ketika Theophilus, juga seorang penganut Ikonoklasme, menjadi kaisar (829-842), mereka kembali ke Konstantinopel. Namun kemudian mereka ditangkap sekali lagi dan dibuang. Jadi dua kali mereka mengalami pembuangan itu. Akibatnya Theodorus meninggal di Bithynia, Asia Kecil pada tahun 814, sebagai akibat dari penganiayaan atas dirinya. Sedangkan Theofanes setelah pembuangan itu menjadi Uskup di Nicea. Ia wafat pada tahun 845.

Theodoros sangat gigih dalam membebaskan Gereja dari kekuasaan dan pengawasan negara, yang dianggapnya selalu meremehkan semangat Kristiani. Ia juga dikenal sebagai tokoh pembaharu hidup membiara yang sangat besar pengaruhnya di kalangan Gereja Timur. Selama berada di tempat pembuangan itu, ia sangat rajin menulis berbagai karya tulis: katekese, kotbah, nyanyian dan buku-buku untuk membela iman yang benar.

 

Santo Theodoros Studite, Abbas dan Pengaku Iman

Theodoros lahir pada tahun 759 di sebuah kota dekat Akroinum, Asia Kecil. Dalam soal kehidupan membiara di Konstantinopel, Byzantium, beliau tergolong seorang rahib dan abbas yang mempunyai pengaruh besar. Ia tetap menjunjung tinggi penghormatan kepada gambar-gambar kudus yang dipajangkan di dalam gereja sebagai perlawanan terhadap bidaah ikonoklasme. Sebagai akibat dari perjuangannya mempertahankan ajaran-ajaran Gereja, ia beberapa kali dibuang dan akhirnya meninggal dunia pada tanggal 11 Nopember 826, di Akritas (sekarang: Cape Gallo, Yunani).

Pada tahun 794, ia menjadi Abbas sebuah biara, yang didirikan di lahan perkebunan milik ayahnya di Sakkoudion, dekat Olympus. Dalam kedudukan itu, ia melancarkan kritik terhadap perkawinan kembali kaisar Konstantinus VI (780-797), setelah perceraiannya; kritikan itu mengakibatkan pembuangan atas dirinya ke Salonika. Tetapi pada tahun 797, ia diizinkan kembali oleh penguasa yang baru. Tak lama kemudian para perompak-perompak Islam memaksa Theodoros bersama rahib-rahibnya pindah ke Konstantinopel. Di Konstantinopel mereka diizinkan menetap di sebuah biara pertapaan di Studion. Pada tahun 799 Theodoros menjadi Abbas di biara Studion dan aktif menulis beberapa karangan tentang corak hidup membiara.

Pada tahun 809 Theodoros sekali lagi dibuang demi melindungi Nicephoras, seorang awam yang diangkat menjadi patriark Konstantinopel. Tetapi pada tahun 813 dari tempat pembuangannya, Theodoros mendukung Patriark Nicephorus dalam usahanya melawan bidaah ikonoklasme; sebagai akibatnya, Nicephorus pun segera menyusul dia ke pembuangan. Tujuh tahun kemudian, Theodoros diizinkan kembali ke Konstantinopel, tetapi pertentangan yang terus menerus dilancarkannya terhadap para penganut ikonoklasme mengakibatkan pembuangannya yang terakhir di Akritas hingga wafatnya pada tanggal 11 Nopember 826. Ia dimakamkan pertama di Akritas dan kemudian relikuinya dipindahkan ke biara Studion pada tahun 844.